Kewaspadaan terhadap kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti harus senantiasa ditingkatkan bahkan harus menjadi perhatian khusus bagi semua kalangan. Dalam hal ini, pemerintah tidak bisa bekerja sendirian namun dibutuhkan peran serta aktif semua komponen masyarakat di Kota Denpasar. Untuk menanggulangi bahkan meminimalisir sejak dini terjadinya kasus DBD, Kelurahan Sumerta Kecamatan Denpasar Timur, menyelenggarakan sosialisasi penanganan DBD dengan melibatkan Dinas Kesehatan Kota Denpasar melalui Puskesmas Denpasar Timur I yang diselenggarakan, Minggu (13/5) di Banjar Ketapian Kelod. Selain meminimalisir kasus DBD, dalam kegiatan ini juga dilaksanakan penyuluhan kesehatan bagi ibu, bayi dan anak.
Lurah Sumerta, I Made Tirana ditemui disela-sela kegiatan mengatakan, kasus DBD bisa diminimalisir dengan cara menjaga kebersihan lingkungan kita masing-masing. Kebersihan menurutnya merupakan suatu keharusan dalam menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat, oleh karenanya pihaknya selalu menghimbau kepada warganya untuk senantiasa peduli terhadap kebersihan lingkungannya masing-masing dengan cara gotong royong. Selain itu Tirana juga mencontohkan saat ini di Kulurahan Sumerta sudah menerapkan satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik), dengan demikian diharapkan mampu meminimalisir terjadinya kasus DBD. "Melalui kegiatan ini kami berharap kepada masyarakat agar terus meningkatkan kewaspadaanya terhadap kasus DBD ini, sebab DBD tidak memandang status orang yang diseranya. Jika semua masyarakat mengerti dengan apa yang kami himbau, saya yakin kasus DBD ini bisa diminimalisir sejak dini," kata Tirana. Ia menambahkan, selain upaya dari Pemkot Denpasar melalu fogging masal dan pemberian bubuk abate, pihaknya juga berharap tetap melakukan 3M plus yakni Menguras bak air, Menutup rapat semua wadah air, Mengubur atau memusnahkan semua barang bekas, dan Memantau semua wadah air yang dapat menjadi tempat bersarangnya nyamuk aedes aegepti.
Perwakilan Puskesmas Denpasar Timur I, Ni Wayan Suryastini mengatakan bahwa DBD disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegepti. Virus ini dapat mengenai siapa saja dan dapat pula menimbulkan kematian serta berimbas kepada Kejadian Luar Biasa (KLB). Untuk meminimalisir kasus DBD Suryastini berharap adanya jumantik mandiri disetiap rumah, yang artinya satu rumah satu juru pemantau jentik. Pihaknya juga berharap kepada masyarakat selain adanya para jumantik dari Desa/Kelurahan, juga diharapkan para warga masyarakat mampu menjadi jumantik mandiri dirumahnya masing-masing. "Kami berharap warga masyarakat mampu menjadi jumantik mandiri dirumahnya masing-masing, karena mereka yang lebih mengetahui situasi rumahnya sendiri. Selain itu, salah satu upaya untuk menekan kasus DBD adalah dengan gema petik yakni gerakan mandiri pemantau jentik," kata Suryastini.
Sementara Kaling Ketapian Kelod, I Wajan Rajeg menyambut baik kegiatan ini disamping itu pihaknya sangat berterimakasih atas kegiatan yang diselenggarakan oleh Kelurahan Sumerta ini. Ketika disinggung bagaimana upaya dari lingkungan Ketapian Kelod dalam upaya mengantisipasi kasus DBD, Rajeg mengatakan bahwa sejauh ini selain melakukan gotongroyong secara rutin setiap sebulan sekali puhaknya juga memanfaatkan adanya bank sampah Ketapian Kelod Berseri. "Dengan adanya bank sampah Ketapian Kelod Berseri ini sangat membantu kami dalam mengurangi sampah terutama plastik. Secara otomatis sampah plastik ini seperti botol dan lain sebagainya akan berkurang. Seperti kita ketahui bersama bahwa botol, kaleng dan lainnya merupakan sumber genangan air yang disukai oleh nyamuk," kata Rajeg. (Ngurah)
25 Agustus 2025
08 November 2025